Senin, 26 Juli 2010

Apa Kabar Pengajaran Sastra di Sekolah?


Tapi lihatlah, di tengah kekejaman dan kesedihan itu nampak anak-anak kera dan anak-anak raksasa riang bermain bersama-sama. Sepasang-sepasang, anak raksasa menggendong seekor anak kera. Lalu berlombalah mereka sampai terengah-engah nafasnya.
(Sindhunata, Anak Bajang Menggiring Angin)



Keprihatinan terhadap kondisi kritik sastra dan arah perkembangan sastra Indonesia dewasa ini sebenarnya bukanlah hal yang baru. Sebelum milenium ini berlangsung, katakanlah, sudah terlaksana beberapa lokakarya, seminar, workshop yang membahas beberapa strategi dan taktik agar keduanya dapat berkembang secara sinergis. Pemikiran-pemikiran cemerlang yang dilontarkan oleh para pemerhati dan intelektual sastra kita pada saat itu masih dapat kita temukan dalam berbagai tulisan. Namun, sampai saat ini, perkembangan yang diharapkan itu masih berada di jalur yang meresahkan dan bahkan sangat kritis. Hasil-hasil diskusi dan pemikiran yang telah dicapai hanya berlalu begitu saja sebagai sebuah peristiwa dan hidup sebagai buku usang yang tertutup. Dalam tulisan singkat ini saya mencoba untuk mempertajam kembali sejauh manakah pengajaran sastra yang diterapkan di kelas-kelas sastra baik di universitas maupun di sekolah-sekolah kita berjalan.

PENGAJARAN SASTRA: SEBATAS PENGETAHUAN?
Secara sadar atau tidak pengajaran sastra hanya terselip dalam pengajaran bahasa Indonesia di sekolah. Seturut dengan perkembangan model kurikulum yang disyaratkan pengajaran sastra hanya mengisi sebagian kecil ruang bahasa. Ada kesan bahwa seolah-olah pengajaran sastra tidak lebih penting daripada pengajaran bahasa itu sendiri. Apabila dibandingkan dengan pengajaran matematika atau sains yang masih dipuja masyarakat kita, pengajaran sastra benar-benar terpuruk! Kondisi demikian menyebabkan pengajaran sastra menjadi sebuah tanah asing bagi para peserta didik.
Sejauh ini pengajaran sastra juga hanya diperkenalkan dalam sebuah rangkuman mengenai karya-karya kanon yang bermula dari Balai Pustaka, para sastrawan dalam angkatan-angkatan, jenis-jenis genre sastra seperti puisi atau prosa, atau pembacaan puisi dan pantun yang sangat dangkal. Melihat kondisi ruang dan waktu yang sangat terbatas, hal demikian tidak dapat dipersalahkan. Namun, bila kita cermati lagi, maka kita melihat bahwa pengajaran sastra demikian hanya menjadi sebatas pengetahuan (knowledge). Peserta didik hanya diminta untuk menghapal tanpa berusaha diajak untuk melihat sastra sebagai sebuah objek ilmu pengetahuan yang dapat dibandingkan, diaplikasikan, dianalisis, disintesiskan, dan dievaluasi.
Memang ada beberapa strategi yang dilakukan oleh beberapa penyelenggara pendidikan untuk mengatasi hal ini. Salah satunya adalah melalui pemisahan pengajaran sastra dengan pengajaran bahasa Indonesia sebagaimana pernah terjadi pada waktu lalu atau mempertahankan program bahasa dan budaya (A4). Namun, hal tersebut pun sangat jarang kita temui pada masa kini karena seolah-olah ada tuntutan “ketertinggalan” dan “status internasional” yang harus sesegera mungkin dijalankan masing-masing sekolah. Selain itu, tuntutan kurikulum mencekik kreativitas bahan-bahan pengajaran. Semakin kurikulum yang disyaratkan pemerintah itu dapat terselesaikan, semakin minimal kekhawatiran para guru bahasa dari kegagalan mereka membawa para murid berhasil dalam Ujian Nasional. Oleh karena itu, dalam kurikulum sehari-hari, pengajaran sastra hanya sesekali disisipkan dalam beberapa kompetensi yang diharapkan seperti membaca, mendengar, menulis, atau berbicara. Namun, apakah hal ini mampu memberikan artikulasi yang bermakna bahwa pengajaran sastra merupakan salah satu strategi budaya untuk semakin memanusiakan manusia? Apakah hal ini mampu menggugah rasa cinta para murid kepada sastra sebagai sebuah dokumen kemanusiaan?
Salah satu strategi yang seringkali dilakukan oleh para guru bahasa yang memiliki idealisme bahwa pengajaran sastra merupakan pengajaran yang khas adalah dengan mengadakan diskusi tentang karya sastra kontemporer. Strategi demikian memang dapat memudahkan mengalirnya beberapa gagasan dari para murid yang seringkali tidak disangka-sangka. Ruang kelas dapat lebih hidup.Pembicaraan mengenai karya sastra akan menjadi ruang pembicaraan tentang kehidupan karena aspek-aspek dalam kehidupan akan tersentuh dengan sendirinya. Kendati begitu, strategi ini memiliki sejumlah konsekuensi yang harus dicermati.
Pertama, guru sebagai fasilitator diskusi, mau tidak mau, harus memiliki wawasan yang luas baik dalam karya itu sendiri maupun aspek-aspek sosiologis, filosofis, politis, agama, atau psikologis yang terkait. Hal ini berarti bahwa diskusi yang difasilitasinya bukanlah sebuah pembicaraan struktural mengenai unsur internal karya sastra itu semata, tetapi bersama-sama melihat sastra sebagai sebuah teks kebudayaan.
Kedua, para murid diandaikan telah membaca karya tersebut sebelumnya. Tanpa pengalaman membaca, proses diskusi ini hanya akan menjadi omong kosong karena akan ada kecenderungan pada guru untuk mendominasi diskusi pada akhirnya.
Ketiga, strategi diskusi ini harus mempertimbangkan karya sastra yang dibicarakan sesuai perkembangan psikologis peserta didik. Diskusi ini sama sekali tidak bersifat sebagai diskusi yang arbitrer (mana suka). Sebagai contoh, apakah tepat jika pembicaraan mengenai Saman karya Ayu Utami atau Orang-orang Bloomington karya Budi Darma menjadi topik diskusi bagi anak kelas enam sekolah dasar? Dalam hal ini, yang harus menjadi perhatian pertama-tama adalah bobot permasalahan yang ditampilkan dalam karya sastra itu, bukan alusi erotisme atau kekerasan yang dikhawatirkan memberikan pengaruh negatif. Untuk memberikan stimulus agar anak dapat menyukai pembacaan karya sastra, bobot permasalahan karya sastra memang harus diperhatikan sesuai dengan dunia yang dihidupi oleh anak.
Keempat, diskusi ini ditujukan bukan untuk mencari penafsiran yang monolitik melainkan penafsiran yang plural dari berbagai dimensi. Sekali lagi, guru sebagai fasilitator, sama sekali tidak berwenang untuk mematenkan penafsirannya sendiri. Ia hanya merangkum seluruh hasil diskusi sebagai sebuah mosaik yang bermakna. Terakhir, ada baiknya jika diskusi yang lebih menampilkan kemampuan lisan ini diiringi pula dengan kemampuan menulis.
Salah satu strategi dalam pengajaran sastra yang tampaknya belum populer di Indonesia adalah lingkar sastra (literature circles). Strategi pengajaran ini sangat potensial dalam ruang-ruang kelas sekolah dasar sampai menengah di Amerika. Pada awalnya lingkar sastra ini hanya terlihat sebagai sebuah strategi bagaimana program membaca secara lengkap dapat dilakukan. Akan tetapi, bila dicermati lebih dalam, strategi ini justru menawarkan kemampuan berpikir yang dapat dikembangkan secara kreatif oleh murid sendiri. Mereka tidak hanya dapat membaca atau mengidentifikasi informasi dan cerita sebagai sebuah pengetahuan saja tetapi juga mampu membuat korelasi dengan berbagai aspek di sekitar mereka, mengadakan perbandingan melalui prediksi dan penjelasan, menerapkan, menganalisis, membuat sintesis, dan mengevaluasi informasi yang terdapat dalam sebuah karya sastra.
Rangkaian ini sebenarnya bertujuan untuk membangun apresiasi pada sastra, gaya, dan maksud pengarang yang tercermin dalam cerita, dan untuk menilai selera pribadi atas sebuah cerita. Lingkar sastra ini terbangun melalui kerja kelompok. Dalam setiap kelompok setiap murid memiliki tugasnya masing-masing untuk melakukan sejumlah perbandingan, sintesis, atau evaluasi. Dari sini saja kita dapat melihat bahwa strategi demikian tidak hanya melulu mengarahkan murid kepada pemahaman teks, tetapi juga memunculkan leadership, tanggung jawab, dan penghargaan pada pemikiran setiap individu di antara mereka.

PENGAJARAN SASTRA: MESTIKAH DISINGKIRKAN?
Tampaknya bila kita hanya berkutat pada permasalahan bahwa ada kemandulan dalam kritik sastra kita saja, maka secara tidak langsung kita sendiri melupakan strategi untuk memberikan dasar kritik sastra yang kuat bagi generasi selanjutnya sejak dini. Oleh karena itu, mau tidak mau, kita harus mengarahkan diri kita kembali kepada strategi pengajaran sastra yang lebih kondusif dan inovatif .
Pada dasarnya kritik sastra yang dapat ditanamkan mula-mula adalah melalui kegiatan membaca, mendengarkan cerita atau dongeng, atau bahkan menonton film yang dapat dilakukan oleh murid-murid sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Untuk menghindari kepasifan mereka dalam meresepsi bacaan, dongeng, atau film tersebut, seorang guru bisa saja meminta mereka untuk menceritakan kembali isinya baik secara lisan maupun tulisan. Hal ini harus dilakukan secara berulang-ulang dan bertahap sesuai dengan perkembangan psikologis mereka.
Akan tetapi, perlu dicermati pula bahwa pengajaran sastra awal ini tidak harus selalu identik dengan teks-teks tertulis yang terdapat dalam buku-buku saja. Pengadaan material seperti panggung boneka, slide film, kostum drama, dan gambar-gambar menjadi sangat penting bagi mereka untuk menumbuhkan minat pada sebuah cerita. Namun, lagi-lagi di sini kita terbentur pada penyusunan kurikulum yang tidak sensitif pada perkembangan psikologis anak bangsa. Pemerintah tampaknya cenderung mempertahankan kurikulum pengajaran dunia ketiga yang terus-menerus harus mengejar ketinggalannya dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Setiap kita direkrut untuk langsung masuk pada wilayah melek teknologi tanpa penguasaan yang matang terhadap melek huruf dan melek budaya.
Saya melihat bahwa metode diskusi sebagaimana telah digagas di bagian depan, tampaknya dapat dikatakan sebagai jalan tengah pada masa kini untuk meningkatkan mutu pengajaran sastra kita. Akan tetapi, hal ini kiranya akan sia-sia bila pemerintah, fakultas ilmu budaya di universitas-universitas, lembaga-lembaga yang terkait, atau penerbit buku tidak tanggap pada keprihatinan ini. Tentu saja, strategi demikian tidak mutlak bergantung pada peranan guru bahasa semata-mata melainkan juga pada berbagai kebijakan, penyiapan sumber daya, dan pengadaan material pengajaran yang ada seperti buku-buku yang kondusif.
Sampai hari ini pun saya belum melihat adanya usaha serius untuk mengadakan kembali buku leveling yang kontekstual pada dunia anak dalam buku-buku sastra yang dapat diharapkan cocok dengan perkembangan psikologis peserta didik, walaupun sesungguhnya pada tahun 50-60-an usaha demikian pernah dilakukan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Setidak-tidaknya, jika kita hanya sepakat untuk menganggap pengajaran sastra sebatas pengetahuan, maka kita perlu merumuskan sebuah core knowledge yang penting dikuasai oleh peserta didik dalam berbagai level sebagaimana telah dilakukan oleh Core Knowledge Foundations yang dibidani oleh E.D. Hirsch, Jr. di Amerika sejak tahun 1986. Dalam Core Knowledge yang digagas oleh yayasan tersebut sebagai bentuk perhatian dari para guru dan orang tua murid, pengajaran sastra menduduki tempat pertama sebagai basis pengetahuan yang mendasari perkembangan imajinasi dan kreatifitas bagi pengetahuan yang lain. (Paul Heru Wibowo)

******

Jumat, 23 Juli 2010

Menakar Identitas di Atas Vinyl Cina: Refleksi Diskusi Poster Festival Kesenian Indonesia

“Apakah kita benar-benar sadar dan bangga akan akar budaya kita? Atau hanya di kulit saja? Atau kesadaran itu muncul karena adanya ancaman dari luar?Atau sekadar eforia? Mudah-mudahan tidak berhenti sampai di sini saja.”
(inskripsi dalam poster Mendadak Batik karya Indah Tjahyawulan)


Sejauhmanakah seni dapat merepresentasikan kesadaran akan identitas? Sejauhmanakah seni dapat mengeksplorasi hal itu di dalam dunia global yang begitu jamak dan beragam ini? Kedua pertanyaan ini mungkin hanya menjadi sejumput kecil pertanyaan dalam Festival Kesenian Indonesia yang digelar selama satu bulan di Taman Ismail Marzuki Jakarta. Dengan mengambil tema Exploring Root of Identity, festival kali ini ingin menempatkan pembicaraan mengenai identitas sebagai masalah yang cukup mendesak untuk dikaji dalam kehidupan seni dan budaya masyarakat Indonesia. Melalui sejumlah acara seperti seminar, workshop, pameran, dan pertunjukan seni, gagasan mengenai identitas itu digali, dicermati, dan dikritisi.
Dalam festival ini, beberapa desainer poster pun memperoleh kesempatan untuk unjuk gigi. Sebanyak 40 poster yang mereka ciptakan memotret permasalahan identitas dari sejumlah perspektif yang berbeda-beda. Nicholas Wila Adi, misalnya, memotret ilustrasi-ilustrasi yang tersua dalam bak-bak truk yang melintas di sepanjang daerah Pesisir Pantai Utara Jawa. Tampaknya bak-bak truk yang di antaranya berilustrasikan wanita setengah telanjang, pendekar silat, pemandangan, para hero film Hollywood tahun 80-an, atau tokoh punakawan seperti Petruk dan bertuliskan kalimat-kalimat seperti “Mampir Bos,” “Doa Ibu Sepanjang Jalan,” atau “Aku Wis Seneng,” dipandang Nicholas mewakili identitas Indonesia yang sebenarnya. Sementara itu, Danu Widhyatmoko mengaitkan tema identitas secara metaforis dengan gambar pohon besar yang memiliki akar yang begitu kuat dan banyak dengan latar warna merah membara. Sumbo Tinarbuko menghentak publik dengan sebuah poster bertuliskan “Cara Mudah Menjadi 100 % Indonesia” untuk merepresentasikan problem identitas yang dialami oleh masyarakat Indonesia modern. Poster ini seolah-olah ditampilkan oleh Tinarbuko sebagai sebuah petunjuk singkat dan praktis bagaimana masyarakat dapat menumbuhkembangkan identitas ke-Indonesia-annya dalam aktivitas sehari-hari. Dalam semangat yang sama, Indah Tjahyawulan menampilkan sebuah poster menarik dengan tema “Mendadak Batik”. Uniknya, tema ini dikemas dalam sejumlah status dan komentar yang terdapat pada social networking terbesar di dunia seperti Facebook mengenai hari Batik yang jatuh pada tanggal 2 Oktober lalu.
Untuk memberikan pemahaman kepada publik tentang maksud dan pesan ke-40 poster yang dipamerkan itu, diselenggarakan pula sebuah diskusi. Diskusi yang disampaikan oleh beberapa pembicara seperti Danu, Hani, dan Priyanto cukup menarik untuk dicermati. Dalam perspektif yang berbeda-beda, masing-masing pembicara itu mencoba mengupas hubungan poster dan akar identitas masyarakat Indonesia.
Danu, misalnya, memandang bahwa fungsi poster saat ini tidak diarahkan sebagai sarana propaganda politik melainkan sarana propaganda ekonomi. Karena itu sekitar 20-30 tahun lalu, nilai ekonomis poster bisa menjadi sangat mahal. Akan tetapi, pada saat ini, nilai ekonomis poster ditantang oleh kecanggihan media digital yang mampu memproduksi sekaligus merekayasa produk poster dalam jumlah yang tidak terbatas. Dapat dikatakan bahwa poster telah mengalami metamorfosis yang sangat cepat. Poster bukanlah sekadar sarana informasi dan komunikasi tetapi sudah merambah kepada ideologi dan paradigma yang berkembang di dalam masyarakat modern. Misalnya, poster cuci tangan bukanlah lagi selembar pengumuman atau informasi mengenai pentingnya kita mencuci tangan tetapi telah berubah sebagai alat yang dapat dipergunakan untuk mencuci tangan secara langsung karena terbuat dari bahan sabun. Menurut Danu, wallpaper yang dipergunakan pada komputer pun pada saat ini dapat dikategorisasikan sebagai poster. Perkembangan yang begitu cepat dalam dunia poster seolah-olah ingin memberikan pesan bahwa teknologi dapat memaksimalkan pesan dan informasi. Tentu saja, sangat diharapkan bahwa pesan yang telah dielaborasi ini memiliki dampak yang sangat baik kepada masyarakat.
Sementara itu, Hani mencoba untuk membicarakan sejumlah pola yang dapat dilihat dari hasil karya sejumlah desainer dalam pameran kali ini. Sayang, pembahasannya terlalu berkesan simplistik dan tidak menampilkan analisis yang dapat menjelaskan hubungan identitas dan seni. Kendati begitu, dalam ulasannya Hani menanyakan apakah di dalam pameran ini ada kesadaran yang bertolak pada target spesifik.
Lain halnya dengan kedua pembicara sebelumya, Priyanto lebih menerangkan keberadaan poster sebagai sebuah karya seni secara teoretis. Ia menyatakan bahwa pada mulanya poster dipergunakan Martin Luther, perintis gerakan reformasi, di gereja Wittenberg untuk menggugat gereja Katolik pada tanggal 31 Oktober 1517. Pada perkembangan berikutnya, poster dipergunakan sebagai sarana berdagang. Akan tetapi, setelah itu, terutama di Rusia, poster dipergunakan sebagai sarana propaganda politik untuk menyerang kekuasaan Tzar. Sifatnya yang subversif seolah-olah menjadi penanda utama dalam poster. Lambat laun keberadaan poster mulai berubah lagi. Polandia, menurut Priyanto, adalah salah satu negara yang memberikan pengaruh yang cukup besar pada perkembangan pembuatan poster film. Poster-poster tersebut dibuat dalam pola yang tidak kaku, tetapi terlihat sangat sentimentil, romantis, dan emosional. Poster a la Polandia ini menjadi sumber inspirasi bagi gerakan avant garde yang dimotori oleh Andy Warholl dan para desainer poster progresif sampai hari ini.
Dari pameran dan diskusi ini, saya melihat beberapa pertanyaan yang menarik untuk dipikirkan lebih lanjut. Pertanyaan pertama adalah apakah keberadaan unsur bahasa di dalam poster begitu penting sehingga harus selalu disandingkan dengan bentuk-bentuk grafis? Sejauh ini saya melihat bahwa unsur bahasa seperti tulisan dipergunakan oleh para desainer poster untuk menerangkan maksud atau makna gambar. Ketergantungan terhadap tulisan tampak begitu kental sebagaimana tersua pada poster yang dielaborasi oleh Sumbo Tinarbuko atau Indah Tjahyawulan. Poster-poster itu akan kehilangan makna jika unsur bahasa dihilangkan dan unsur grafis ditonjolkan. posisi ini sangat dilematis. Di satu pihak, jika unsur bahasa terlalu ditekankan, ada kecenderungan bahwa poster hanya menjadi alat propaganda. Di pihak lain, jika unsur gambar terlalu ditekankan, ada kecenderungan bahwa poster tidak menyatakan apa-apa kecuali sebuah lukisan.
Pertanyaan kedua adalah bagaimanakan bentuk poster dapat dielaborasi di masa depan? Berdasarkan penjelasan yang disampaikan Danu, saya semakin percaya bahwa cepat atau lambat para desainer poster akan beralih kepada media digital sebagai salah satu perangkat kerja yang sangat penting. Teknologi ini jelas menjadi pilihan para desainer yang menjual gagasannya demi propaganda ideologi ekonomi neoliberalisme yang pada saat ini terus-menerus berakar sangat kuat. Poster bukan lagi sebuah media yang dibentuk oleh pencil and paper dan berdimensi dua. Poster masa depan adalah sebuah media multidimensi yang sudah sangat menyerupai kehidupan itu sendiri. Apakah kondisi demikian dapat disebut sebagai kondisi post-poster dimana realitas poster telah menjadi sebuah pseudo organisme yang bergerak, hidup, dan melingkupi praktik kehidupan sehari-hari secara kasat mata sehingga post-poster ini terejawantahkan dalam posture diri kita ?
Pertanyaan terakhir adalah apakah persoalan identitas sungguh-sungguh dapat direpresentasikan dalam media grafis seperti poster? Apakah bahasa gambar dan bahasa verbal di dalam poster mampu merepresentasikan serangkaian wacana sosial dan budaya yang berkembang di dalam masyarakat mengenai identitas bangsa Indonesia yang terbelah di antara tradisionalitas dan modernitas? Sekilas, dari ke-40 poster yang ditampilkan, persoalan itu telah terjawab. Namun, hipotesis sementara saya adalah bahwa identitas memang sangat metaforis seperti pohon besar dengan akar-akar yang kuat. Tentu saja, penggambaran identitas di atas Vinyl Cina itu bukanlah sebuah proses akal-akalan. (Paul Heru Wibowo)

********

Menemukan Kembali Masa Lalu



Almost everything we call "higher culture" is based on the spiritualization and intensification of cruelty- this is my proposition; the "wild beast" has not been laid to rest, it lives, it flourishes, it has merely become-deified.
(Friedrich Nietzsche, Beyond Good and Evil, 1885).


Menurut Sindhunata, salah satu tugas sastra Indonesia pascareformasi adalah menemukan kembali masa lalu. Tidak dapat dipungkiri bahwa selama rezim Orde Baru berkuasa banyak kebenaran masa lalu yang terpendam. Tugas yang diemban oleh ilmu sejarah untuk menguaknya sungguh berat. Karena itu, sejarah membutuhkan partner yang dapat menggali kebenaran tersebut.
Sebagaimana dinyatakan Joachim Fest, seorang filsuf Jerman, masa lalu perlu didekati dengan fantasi, intuisi, dan rasa ingin tahu yang manusiawi, selain penggalian sumber-sumber sejarah secara ilmiah. Bahkan, ada yang mengatakan bahwa kebenaran itu sesungguhnya tidak dapat dilacak di dalam sejarah sebab kebenaran yang asli dan sejati hanya terdapat di dalam roman.
Sastra memiliki tugas yang sama dengan sejarah yaitu mengingat masa lalu agar bisa ditemukan kebenaran di dalamnya. Sindhunata menyatakan bahwa aktivitas mengingat sangatlah penting, terutama dalam konteks pembentukan bangsa. Ini pun bukanlah tugas yang mudah. Hal demikian dapat dipahami karena masa lalu manusia Indonesia begitu gelap dan sulit ditembus. Selama rezim Orde Baru data-data sejarah sama sekali tidak dapat transparan.
Dalam beberapa hal, faktor ingatan jugalah yang menuntun Sindhunata untuk menuliskan sebuah novel yang berjudul Tak Enteni Keplokmu, Tanpa Bunga, dan Telegram Duka. Novel ini terinspirasi oleh lukisan Djoko Pekik yang berjudul Indonesia Tahun 2000: Berburu Celeng. Dalam lukisan itu digambarkan bagaimana seekor celeng raksasa tertangkap, dipikul oleh dua orang kurus kering, yang menjadi simbol dari wong cilik, dan disaksikan oleh sekian banyak rakyat.
Dalam novel itu Sindhunata menengarai bahwa celeng bukanlah binatang biasa melainkan makhluk yang kerasukan roh jahat sehingga ia menjadi serakah, rakus, bengis, dan haus kuasa. Setelah mengamati dengan saksama lukisan Djoko Pekik itu, ia begitu terkejut dan sampai kepada sebuah simpulan bahwa kejahatan celeng ternyata tidak dapat mati. Daya roh jahat yang dimilikinya membuat kejahatannya justru semakin lebih hidup, berlipat ganda, dan menulari siapa saja. Reformasi 1998 yang berniat membunuh celeng justru menghidupkannya kembali dan bahkan merasuki sekian banyak orang yang berniat merajamnya. Untuk menggambarkan situasi ini, Sindhunata mengutip lakon wayang yang dipentaskan oleh Ki Dhalang Manteb Soedharsono, Lengji Lengbeh (Celeng Siji, Celeng Kabeh, Satu Celeng, Semuanya Celeng). Karena hal itu, celeng dianggapnya bukan lagi mewakili sebuah simbol dalam sebuah penulisan sastra, melainkan suatu ingatan sejarah dan kultur bahwa bangsa ini akan terus terancam oleh nafsu, egoisme, rakus, serakah, haus kuasa, kejam, dan bengis.
Kendati begitu, Sindhunata juga tidak dapat menyangkal bahwa menghadapi dan mengolah ingatan-ingatan kultural bukanlah sesuatu yang mudah. Sejauh ini isi, makna, dan historitas idiom kultural seringkali tidak mudah dikupas. Selain itu, sarana, refleksi, dan catatan mengenai hal itu sama sekali tidak tersedia. Sindhunata mengakui bahwa warisan kultural itu sudah lama tidak ditangani dan hanya hidup sebagai ideologi belaka dalam pemerintahan Orde Baru.
Karena itu, untuk membuka kembali warisan kultural tersebut, sastra harus mengandalkan kekuatannya sendiri, yaitu bahasa atau kata-kata. Bahasa bukanlah sekadar sebuah sarana tetapi justru menjadi tujuan karena bukan hanya “dengan bahasa” melainkan juga “dalam bahasa-lah” ingatan kultural itu tercipta sebagai realitas yang baru. Pendek kata, sastra dan bahasanya menjadi pembebas bagi ingatan kultural yang terbelenggu itu.Dalam hal ini, kebebasan yang hendak dicapai sastra, menurut Sindhunata, berkaitan erat dengan manusia dan kemanusiaanya. Wilayah kebebasan demikian jauh lebih luas dan tinggi daripada kebebasan yang diimpikan politik, ekonomi, dan kehidupan intelektual.

********

Jumat, 07 Agustus 2009

Jacko, Surip, dan Rendra









Jacko, Surip, dan Rendra



“Dalam berkarya, tidak pernah saya mengkonsentrasikan diri terhadap orisinalitas atau kebaruan tetapi konsentrasi saya kerahkan untuk setia pada hati nurani saya dan kepada hidup.”

(WS Rendra, “Mempertimbangkan Tradisi”)



T

idak ada seorang pun yang menyangka bahwa dalam dua bulan terakhir ini, kita kehilangan tiga nama populer dalam dunia kesenian. Pada awal bulan Juli,dunia dikejutkan oleh kematian the king of pop, Michael Jackson. Hal ini sungguh menyentak jutaan penggemarnya. Pasalnya, Jacko pernah menjanjikan bahwa di tahun ini pula ia akan kembali menghibur para penggemarnya dengan energi dan performance yang lebih segar. Konon, karena itu pula, tiket rencana pertunjukannya telah diburu habis oleh para penggemarnya di belahan Eropa.

Belum kering air mata, di bulan Agustus ini, kita kehilangan lagi dua nama sekaligus; Mbah Surip dan WS Rendra. Di tengah ketenarannya yang fenomenal, Mbah Surip, pelantun tembang Tak Gendong dan Bangun Tidur, justru menghadap yang Mahakuasa. Kemunculannya di dunia hiburan ternyata cukup singkat. Masyarakat tidak dapat mendengarkan celotehnya yang jenaka dan gaya tawanya yang khas.

Sementara itu, Rendra yang kita kenal sebagai salah satu penyair besar Indonesia, selain Chairil Anwar dan Sutardji Calzoum Bachri, sehari setelah kematian Mbah Surip, meninggalkan dunia ini selamanya. Padahal, konon kabarnya, menjelang tanggal 17 Agustus nanti, penyair yang dijuluki sebagai si burung merak itu masih berpartisipasi bersama Kantata Takwa dalam pagelaran konser kemerdekaan.

Bagi saya, baik Jacko, Surip,maupun Rendra adalah tiga nama yang patut dicatat dalam sejarah kebudayaan manusia modern. Di satu sisi, mereka adalah para public figure yang sukses dalam panggung kesenian modern. Oleh masyarakat, mereka dianggap sebagai orang-orang yang memiliki pesona dan kharisma tersendiri di atas panggung kesenian. Kendati demikian, perlu diakui bahwa kesuksesan yang mereka peroleh itu bukanlah sebuah hal yang didapat secara instan. Mereka adalah wajah manusia modern yang mau tekun untuk bekerja keras. Setiap mereka memiliki sejumlah kisah pahit di balik ketenaran nama mereka.

Ketenaran Jacko bukanlah dimulai ketika ia berusia 25 tahun atau 30 tahun. Ia memulai karirnya sejak usianya masih begitu muda. Bersama saudara-saudaranya, ia berlatih sebagai seorang penghibur sejati. Jalan yang ia tempuh ini pun tidak mudah. Ia harus menempa dirinya dalam disiplin keras dan kasar yang diterapkan sang ayah. Tidak jarang, sebagai anak, ia harus merelakan hak-haknya diperkosa sang ayah. Sebagai remaja, ia harus merelakan sebagian hidupnya untuk diperas habis oleh kapitalisme hiburan yang memandang dirinya sebagai mesin uang baru. Setelah MTV berdiri pada tanggal 1 Agustus 1981, Jacko, boleh dibilang, telah menjual seluruh dirinya.Sejak saat itu, Jacko hadir bagai sebuah bom bagi dunia hiburan. Suara, goyang badannya, tangan, dan kakinya telah menguras isi hati dan air mata penggemarnya. Tiba-tiba saja Jacko muncul sebagai seorang dewa hiburan di jagad ini. Karena itu, bukan tempatnya jika kita menyalahkannya karena secara tiba-tiba Jacko yang hitam, pesek, dan kribo itu bermetamorfosis sebagai penyanyi berkulit putih, berhidung mancung, dan berdagu belah. Itu adalah tuntutan kapitalisme hiburan a la Amerika yang harus dilakoni Jacko sampai akhir hayatnya. Ia harus terus bersandiwara dengan identitasnya yang sejati..

Mbah Surip pun bernasib sama. Identitasnya tidak diketahui, sesungguhnya. Namun, kisah kehidupannya begitu getir. Konon, selama duapuluh tahun lebih dia tidak pernah memiliki rumah untuk bernaung dari panasnya matahari dan dinginnya udara malam. Ia sudah lama menjadi duda karena sang istri begitu kecewa kepadanya. Cintanya kandas, meski ia begitu menyayangi anak-anaknya. Kisahnya yang tragis begitu mirip dengan lagu-lagu blues yang dinyanyikan musikus New Orleans setelah Perang Dunia II. Setelah lama hidup di jalanan ibukota, ia mulai beradaptasi. Gitar dipilihnya sebagai jalan hidupnya. Bersama gitar yang selalu disandangnya siang dan malam ini, ia justru mulai keluar dari persoalan dirinya sendiri. Surip yang tragis mulai menjelma sebagai Surip yang tegar. Hampir sebagian besar lagu-lagunya yang tenar menggambarkan semangat hidupnya yang tak kenal menyerah. Ia berjalan di atas hukum reggae yang berbeda jauh dengan hukum rimba yang semakin marak di jalanan Jakarta. Ia hanya tertawa dan menyanyi, selain merokok Djie Sam Soe dan menyeruput puluhan gelas kopi hitam setiap harinya. Ketika industri musik populer Indonesia memasuki fase monoton, Mbah Surip, pengamen reggae jalanan ini, tiba-tiba tampil sebagai seorang hero.

Bukan hal yang kebetulan pula jika pada masa Orde Baru, Rendra dikenal sebagai seorang hero dalam dunia kepenyairan di Indonesia. Puisi-puisinya tajam dan menggigit sehingga membuat resah para pejabat dan politisi yang mengaku peduli pada rakyat. Puisi-puisinya menelanjangi siapa saja yang bernaung teduh dalam kekuasaan. Secara kritis, kata-kata dalam setiap baris dan baitnya mempermasalahkan ketidakadilan dalam pembangunan, kegagalan peran pemerintah, kehancuran budaya karena pariwisata, kemalangan yang menimpa dunia pendidikan, dan konsekuensi yang tidak dapat diantisipasi masyarakat modern. Sejak masa mudanya, Rendra memang telah banyak berlatih menulis, selain berteater. Namun, jalan menulis pun bukanlah jalan yang mudah. Pada awalnya, sejumlah tulisannya ditolak mentah-mentah oleh beberapa majalah kesusasteraan. Namun ia tidak pernah menyerah. Ia tetap rajin mengirimkan puisi-puisi yang diciptakannya dengan sepenuh hati. Konon kabarnya, karena kegigihannya itu, almarhum Pater Dick Hartoko, yang pada saat itu menjabat sebagai kepala redaksi majalah Basis, sebuah majalah kebudayaan di Yogyakarta, mulai memuat beberapa karya Rendra yang tertumpuk di meja redaksinya. Namun, Rendra bukanlah tipe sastrawan yang mudah berpuas hati. Sejak namanya diperhitungkan, ia terus bekerja keras. Kesempatan studi di Amerika, misalnya, tidak disia-siakan. Bahkan ia mengamalkan studinya itu melalui teater mini kata yang sangat fenomenal di pertengahan tahun 1970-an. Rendra memberikan perubahan dan warna yang baru di dalam dunia kesusasteraan Indonesia yang secara diam-diam telah terkooptasi oleh ideologi pembangunanisme Orde Baru. Ia berteriak melalui sajak-sajak pamflet yang ia tulis dan sampaikan secara memukau agar masyarakat tersadar dari mimpi-mimpi yang dijanjikan pemerintah.

Namun, di balik kisah kehidupan mereka yang heroik itu, hal yang sangat tragis terjadi. Setelah kematian mereka, kita dapat melihat bahwa mereka bertiga bukanlah lagi ikon-ikon perlawanan terhadap modernitas yang kaku. Jacko bukanlah lagi ikon penentang rasialisme yang sangat kental seperti tercermin dalam lagunya Black and White.Mbah Surip bukanlah lagi penentang sikap masyarakat Jakarta yang masa bodoh dan tidak peduli kepada sesamanya seperti tercermin dalam lagu Tak Gendong. Rendra bukanlah lagi penentang kondisi pendidikan Indonesia yang mengalami disorientasi seperti diungkapkannya dalam Sajak Sebatang Lisong atau Sajak Seonggok Jagung. Jacko, Mbah Surip, dan Rendra telah menjadi korban media massa yang dalam beberapa hal juga telah mencuatkan mereka sebagai selebritis kultural.

Sampai peti matinya tertutup, Jacko masih tereksploitasi. Ia masih menjadi topik pembicaraan yang hangat dalam berita-berita gossip seolah-olah kematiannya hanyalah sebuah sandiwara yang biasa ditayangkan dalam program reality show. Oleh media, kematiannya diarahkan sebagai sebuah tindakan yang tidak wajar. Akibatnya ada semacam kesan yang terbentuk di dalam masyarakat bahwa kematiannya seolah-olah disangsikan. Berita mengenai munculnya hantu Jacko ini pun menjadi klimaks menjelang pemakamannya

Hal yang sama terjadi pula pada Mbah Surip. Sampai hari ini, jenazah Mbah Surip masih menjadi komoditas yang menarik. Kisah kehidupannya terus diulang-ulang dalam berbagai tayangan televisi swasta. Bahkan untuk memperoleh informasi yang akurat tentang dirinya, dihadirkan sejumlah tokoh dari seniman sampai politisi. SBY pun tiba-tiba saja “urun rembug” memberikan opini tentang Mbah Surip. Sebagai kabar terakhir, makamnya saat ini menjadi tempat yang sangat sakral lengkap dengan juru kunci dan jam kunjung bagi sejumlah orang yang masih bergelut dengan togel dan korupsi.

Sementara itu, Rendra menjadi tokoh yang paling bernasib tragis. Di saat dunia sastra Indonesia menurun, Rendra sama sekali bukanlah tokoh yang populer. Siswa-siswa SMP dan SMA sekarang mulai tidak mengenali namanya apalagi karya-karyanya.Sajak-sajak pamfletnya yang dulu membakar ratusan mahasiswa untuk bergerak dalam arus reformasi telah padam. Rendra tua hanya teronggok dalam padepokan bengkel teaternya yang semakin renta. Sebelum hari kematiannya, Rendra mempersilahkan agar Mbah Surip yang sungguh dikenalinya sebagai sahabat, dikuburkan di lokasi padepokan teaternya. Namun, celakanya, jenazah Mbah Surip lebih menarik daripada figur si burung merak yang sebenarnya sedang menderita sakit menahun. Pada hari itu, media massa rupanya telah melupakannya. Media massa secara diam-diam telah membunuh karakter dermawan sang penyair ini karena penonton memang lebih menyukai untuk merayakan kematian daripada kebaikan hati sang tokoh.

Jacko, Mbah Surip, dan Rendra adalah ikon korban peradaban masyarakat modern yang terlanjur maruk dengan media massa .Lalu, untuk siapa, mereka sesungguhnya berkarya? Semoga Sang Seniman Agung memberikan panggung yang terindah bagi kalian bertiga. Ber-moonwalk, berpuisi, dan gendong-menggendong bersama di Firdaus abadi. (Paul Heru Wibowo)

********

Jumat, 21 November 2008

Sang Guru dan Pohon Filicium


Seumpama suku-suku Badui di Jazirah Arab yang menggantungkan hidup pada oasis maka filicium tua yang menaungi atap kelas kami ini adalah mata air bagi kami. Hari-hari kami terorientasi pada pohon itu. Ia saksi bagi drama masa kecil kami. Di dahannya kami membuat rumah-rumahan. Di balik daunnya kami bersembunyi jika bolos pelajaran kewarganegaraan. Di batang pohonnya kami menuliskan janji setia persahabatan dan mengukir nama-nama kecil kami dengan pisau lipat. Di akarnya yang menonjol kami duduk berkeliling mendengar kisah Bu Mus tentang petualangan Hang Jebat dan di bawah keteduhan daunnya yang rindang kami bermain lompat kodok, berlatih sandiwara Romeo dan Juliet, tertawa, menangis, bernyanyi, belajar, dan bertengkar.[1]

A. Prolegomena
Tidak banyak buku yang didedikasikan oleh seorang murid kepada guru-gurunya di masa lalu.Tidak banyak pula buku yang merekam hubungan tulus antara para guru dan murid-muridnya. Seingat saya, Edward Said, seorang profesor sastra, pernah mendedikasikan buku Orientalisme yang pernah ditulisnya secara serius kepada gurunya, Ibrahim Abu-Lughod. Isi buku itu memang tidak pernah secara eksplisit menyinggung hubungan akrab diantara mereka berdua. Namun, apa yang sebenarnya ia tulis diakui sebagai hasil diskusi yang intens dan bermuara dari semangat yang sama di antara mereka berdua. Pada satu kesempatan, Edward Said mau tidak mau harus bersaksi tentang persahabatan yang telah mereka jalin selama 50 tahun. Ia tampaknya merasa tidak betah untuk tidak membeberkan betapa sang guru memiliki andil yang besar dalam karir akademis dan kehidupan pribadinya sekaligus. Ketika sang guru meninggal, Edward Said menulis sebuah eulogi, My Guru, yang sangat menyentuh.[2] Selain itu, saya juga mencatat bagaimana peran murid-murid Ferdinand de Saussure, bapak Linguistik Modern, dalam menerbitkan catatan-catatan kuliahnya yang belum sempat dibukukan dalam A Course in General Linguistics. Tidak ada satupun di antara mereka yang pernah mengklaim bahwa isi buku itu merupakan hasil penafsiran mereka. Mereka sepakat bahwa segala hal yang tertulis adalah hasil pemikiran orisinil sang guru.


Laskar Pelangi yang ditulis oleh Andrea Hirata Seman bukanlah buku yang ingin menampilkan refleksi teoretis seperti kedua buku tadi, walaupun di sana-sini ditemukan banyak nomenklatur yang beraroma sains. Laskar Pelangi, bagi saya, adalah sebuah refleksi batin dalam bentuk naratif. Refleksi batin itu berbicara kepada saya tentang kekuatan harapan dan semangat untuk berbagi dalam persahabatan. Untuk menyampaikan hal itu, Andrea memilih pendidikan sebagai jalan masuknya. Namun, pendidikan yang dimaksud dibicarakan dengan cara yang berbeda. Ia tidak dibicarakan sebagai sebuah bentuk politik peradaban massa yang di dalam dirinya sendiri seringkali bertentangan. Ia juga tidak dibicarakan sebagai sebuah masalah nasional yang harus segera dipikirkan karena buku ini memang tidak berpretensi sebagai sebuah buku kritik sosial. Pendidikan lebih dipandang secara awam sebagaimana kita menjalaninya dalam kehidupan sehari-hari. Papan nama sekolah, senyum ramah para guru, kelakar dan canda para murid, bangku kelas yang usang dan reot, atau raport yang seringkali berwarna merah menjadi beberapa bentuk yang paling kongkret di dalam refleksi itu. Inilah yang menjadi kekuatan utama dalam Laskar Pelangi. Bukankah beberapa hal itu pula yang seringkali kita kenang setelah kita meninggalkan masa lalu? Selain keluarga, dimanakah lagi kita pertama kali mulai menjadi pribadi yang paling beruntung?

Oleh karenanya, saya berpikir mungkinkah Laskar Pelangi dapat kita sebut sebagai sebuah teks narasi retrospektif dan nostalgia sekaligus bagi kita, para pembacanya, untuk memandang wajah pribadi-pribadi yang berpengaruh dalam hidup kita? Mungkinkah, melalui buku ini, kita dapat menghargai perjumpaan kita dengan masa lalu sebagai salah satu akar pohon kehidupan kita yang tidak tergoyahkan? Dapatkah, melalui buku ini pula, kita membangun sebuah citra perjumpaan antarpribadi yang lebih manusiawi di masa depan?

B. Antara Panggilan Hidup dan Tragedi
Selain berbicara mengenai persahabatan akrab yang pernah terbangun di masa lalu, buku Laskar Pelangi ini didedikasikan oleh pengarangnya kepada kedua gurunya di masa lalu; Ibu Muslimah Hafsari dan Bapak Harfan Effendy Noor. Kedua nama itu tidak hanya hadir di halaman persembahan buku ini, tetapi memiliki pengaruh yang cukup kuat dalam bab-bab pertama. Tampaknya, Andrea memiliki segudang memori tentang mereka. Ia bahkan mampu melukiskan raut wajah serta perangai mereka satu demi satu secara terperinci. Ia mengetahui bedak tepung beras yang terpoles di wajah Ibu Muslimah, silabus pelajaran budi pekerti yang disusunnya, wajah Pak Harfan yang mirip dengan aktor Tom Hanks dalam film Cast Away, atau kaus dalamnya yang berlubang di beberapa bagian.

Kita pun mungkin memiliki memori yang hampir sama dengan Andrea. Ada banyak guru yang datang dan pergi dalam kehidupan kita. Mereka pernah menjadi figur-figur yang kita idolakan lebih daripada selebritis super manapun. Mereka hangat dan selalu menjadi tempat yang teduh untuk berkeluh kesah bak pohon filicium. Mereka datang bagaikan pelita yang menerangi segala gundah ketika tiada seorang pun yang peduli. Namun, di balik kehangatan itu, mereka dapat berubah menjadi monster yang bengis, yang siap mencabik-cabik kita dalam ketidakberdayaan. Mereka pun dapat menjadi suara yang tidak pernah kita inginkan dalam hidup ini. Kita memuji dan menyanjung mereka. Namun, tidak jarang kita kecewa kepada mereka karena ternyata mereka bukanlah sepenuhnya dewa. Mereka tetaplah manusia biasa.

Dalam kehidupan nyata, kita memahami bahwa Ibu Muslimah dan Pak Harfan adalah beberapa pribadi yang telah menggantungkan hidupnya sebagai guru. Kita memahami bahwa untuk menjadi seorang guru, seseorang tidak hanya harus memenuhi segala syarat akademis, melainkan juga semangat. Ketika saya memutuskan untuk menjadi seorang guru pertama kali, ibu saya pernah mengatakan bahwa semangat ini terlalu sulit untuk dilukiskan dengan kata-kata. Secara ideal, semangat itu hanya dapat terlihat pada segala praksis kehidupannya sehari-hari, selain di depan kelas. Akan tetapi, menurut beliau, seorang guru bukanlah gambaran dari manusia sempurna tetapi manusia yang ingin selalu menyempurnakan dirinya. Semangat demikian juga menandakan bahwa menjadi guru adalah sebuah panggilan hidup. Panggilan ini tentu saja dapat semakin tersemai jika keputusan batin yang matang pun mendasarinya. Tanpa keputusan seperti ini, menjadi guru hanyalah sebuah tragedi. Dalam Laskar Pelangi, tragedi seperti itu tampaknya tidak tersurat secara langsung pada kehidupan Ibu Muslimah atau Pak Harfan.

Namun, secara diam-diam, kita dapat melihat bahwa Andrea ingin menunjukkan bentuk tragedi lain yang dialami oleh kedua gurunya itu. Andrea tampaknya mahfum benar dengan kondisi kedua gurunya yang berkarya pada sekolah Muhammadiyah di Belitong. Sekolah yang diselenggarakan oleh yayasan pendidikan berbasis agama itu mustahil kita bayangkan sebagai model sekolah yang memiliki basis finansial yang sangat kuat seperti sekolah nasional plus atau sekolah internasional yang menjamur pada masa kini. Sejauh ini saya memahami bahwa sekolah-sekolah yang didirikan oleh yayasan berbasis agama seperti Muhammadiyah bagi umat Muslim atau Kanisius bagi umat Katolik di Keuskupan Agung Semarang tidak mendasarkan dirinya pada orientasi bisnis. Pendidikan yang digerakkan dalam yayasan-yayasan tersebut biasanya bersifat karitatif. Dalam sebuah penelitian etnografisnya mengenai sepak terjang Muhammadiyah di Indonesia, James L. Peacock pernah mencatat bahwa misi utama Muhammadiyah sebagai gerakan pembaharuan dalam Islam adalah untuk kembali kepada kebenaran yang pokok dari ajaran agama dan tradisi Islam sesuai dengan Al Qur’an dan Hadith Nabi.[3] Gerakan ini disimbolkan dengan semboyan “Amar Makruf Nahi Mungkar”. Misi ini, salah satunya, diimplementasikan dalam pendidikan bercorak pesantren dan madrasah (terpisah menurut jenis kelamin). Baru setelah kemerdekaan Indonesia, Muhammadiyah mengembangkan pula sekolah campuran dengan gaya sekolah pemerintah yang tingkatannya sejajar dengan SD, SMP, dan SMA[4]. Sekolah-sekolah itu tidak hanya terdapat di pusat kota tetapi justru lebih banyak ditemukan di daerah-daerah marginal yang seringkali tidak dapat tersentuh oleh transportasi dan instrumen peradaban modern. Sebagai sebuah karya karitatif, tampaknya, sekali lagi, sekolah Muhammadiyah tempat Ibu Muslimah dan Pak Harfan berkarya pun tidak dapat berspekulasi untuk menjamin kesejahteraan mereka dengan stabil. Hal demikian dapat dipahami karena yayasan harus menanggung biaya operasional sekolah-sekolah lain yang tersebar. Tidak jarang, sebagaimana terjadi pula pada yayasan Kanisius, banyak sekolah yang terpaksa ditutup.

Kesejahteraan menjadi tragedi lain yang tampaknya harus ditanggung. Bukankah hal ini pula yang sedang ramai-ramai diteriakkan oleh para guru swasta, khususnya yang berkarya dalam yayasan pendidikan berbasis agama? Dari permasalahan ini pula, kita dapat membayangkan bagaimana nasib guru-guru seperti Ibu Muslimah atau Pak Harfan yang berkarya di tempat-tempat marginal, yang minim dari berbagai fasilitas peradaban modern. Kita dapat membayangkan bagaimana nasib seorang guru yang mengampu berbagai pelajaran harus diupah hanya dengan 15 kilo beras sebulan. Kita dapat membayangkan bagaimana nasib seorang guru di pedalaman yang setiap hari harus berjalan berpuluh-puluh kilometer hanya untuk bertemu dengan murid-murid yang ia sayangi. Kita pun dapat membayangkan bagaimana nasib seorang guru yang tidak pernah bisa membelikan buku pelajaran untuk anaknya sendiri, dan seterusnya.

Secara sadar atau tidak, pernyataan guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa justru semakin menegaskan bahwa guru-guru kita memang tidak pernah sejahtera. Sejak masa kolonialisme, guru-guru kita memang selalu diplot sebagai pribadi-pribadi yang nrimo, pasrah apa adanya. Tidak boleh berteriak. Tidak boleh protes. Tidak boleh menuntut. Tidak boleh berkata “tidak!”. Seolah-olah guru adalah makhluk yang lepas bebas dari segala tuntutan materi dan duniawi. Hal demikian mungkin terjadi karena selama beberapa waktu kita memandang istilah guru dekat dengan dunia rohani yang berkuasa untuk mendidik dan menjaga keimanan umat (sic!). Saya mengamati bahwa di lingkungan pemerintah dan yayasan swasta pada masa kini ada kecenderungan untuk mengganti istilah itu dengan istilah lain, seperti pengajar, penilai, tutor, fasilitator, administrator, atau bahkan manajer kelas. Saya tidak tahu apakah pergantian istilah ini juga merupakan semacam strategi untuk semakin menghargai guru sebagai sebuah profesi yang profesional atau semacam dalih untuk meredam semangat guru sebagai agen perubahan sosial. Bukankah dengan pergantian istilah itu, posisi guru justru bergeser menjadi sekedar karyawan atau pekerja dalam sebuah perusahaan? Istilah-istilah pengganti itu secara diam-diam telah melenyapkan peran guru sebagai pendidik.

Kalau boleh jujur dengan keadaan masa kini, faktor kesejahteraan memang menjadi prioritas pertama bagi guru, terutama bagi mereka yang bekerja di wilayah terpencil dan yang bernaung di bawah yayasan pendidikan berbasis agama. Peran mereka tidak dapat kita nafikan dan kita katakan kecil bagi bangsa ini. Tanpa mereka yang pernah berupah 15 kilo beras sebulan, kita yakin bahwa tidak pernah muncul seorang Andrea yang mampu mengenyam pendidikan S-2 di Inggris, mendengarkan The Doors, atau menikmati hamparan sabana di bukit-bukit Derbyshire. Namun, apakah faktor kesejahteraan itu memang menjadi satu-satunya harapan yang dirindukan oleh para guru?

C. The Politic of Recognition
Selama beberapa tahun ini, saya tidak menyangkal bahwa faktor kesejahteraan adalah penting. Namun, faktor tersebut bukan menjadi hal yang terpenting. Pengakuan terhadap guru secara sosial dan budaya adalah hal yang lebih harus kita perhatikan. Sejauh ini peran guru hanya diakui oleh masyarakat dalam adagium guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa atau guru sebagai pelita dalam kegelapan. Itu pun dilakukan ketika hari jadi Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dirayakan dalam upacara bendera. Selebihnya, semboyan itu semakin sumbang dan tenggelam berbarengan dengan maraknya tawuran, aksi contek-menyontek di ujian akhir, seks bebas di kamar mandi sekolah, penyalahgunaan narkoba, dan delikuensi moral yang dilakukan oleh oknum guru.

Saya juga tidak dapat menutup mata bagaimana guru masa kini tidak memiliki bargaining power dalam menentukan kebijakan sekolah. Guru bisa dengan mudah dikomplain, dikooptasi, dan disomasi oleh para orang tua murid melalui kepala sekolah hanya karena mereka merasa telah membayar iuran sekolah dengan jumlah rupiah atau dollar yang tinggi. Sekolah menjadi arena kepentingan di antara para orang tua murid dengan dalih-dalih edukatif. Hal demikian belum ditambah dengan beban kurikulum dan tugas administrasi yang semakin berat. Sistem Kurikulum Berbasis Kompetensi yang kita laksanakan, misalnya, ternyata membuat guru-guru kita pontang-panting setiap hari dalam menyiapkan instrumen dan bahan pengajaran bagi murid-murid. Ketidakmampuan seorang guru dalam mengikuti sistem kurikulum yang berlaku membuat dirinya pasrah untuk ditinjau kembali atau bahkan diragukan berdasarkan penilaian kompetensi yang seringkali subjektif. Penilaian kompetensi guru seperti ini jugalah yang pada akhirnya dikhawatirkan oleh mereka yang berkarya di wilayah terpencil atau marginal. Bagaimanakah mungkin seorang guru yang berkarya di wilayah Sorong, Papua, memiliki kompetensi teknologi yang sama dengan rekannya yang bekerja pada sebuah sekolah unggulan di Jakarta?

Pengakuan bahwa profesi guru berbeda dengan profesi karyawan atau pekerja mutlak dilakukan. Hal ini bisa diimplementasikan dengan memunculkan kembali tugas utama dan citra guru sebagai pendidik. Citra ini harus diperbaharui dari dalam dan dari luar dirinya sendiri sehingga guru tidak digambarkan sebagai seorang intelektual yang bodoh, pongah, dan lugu, seperti yang tercitrakan dalam sebuah iklan shampoo di televisi swasta. Iklan itu menggambarkan seorang guru sebagai pribadi yang panik, yang tidak berbuat apa-apa, kecuali menyeka keringatnya ketika ia bersama murid-muridnya terjebak dalam sebuah lift. Apakah iklan ini juga merupakan gambaran aktual bahwa guru-guru kita tidak pernah bisa menyelesaikan segala persoalan pendidikan bersama? Apakah permasalahan pendidikan pun harus diselesaikan oleh para selebritis kita? Apakah untuk hal ini , kemampuan guru harus semakin ditingkatkan terus-menerus? Kendati begitu, tampaknya penilaian terhadap kompetensi guru pun harus disesuaikan dengan berbagai kondisi secara kontekstual dan selaras dengan bargaining power yang dimiliki guru secara otonom.

D. Pohon Filicium: Sebuah Memori dan Janji
Buku Laskar Pelangi, bagi saya, adalah bentuk pengakuan Andrea secara sosial terhadap guru-guru yang dicintainya. Berkali-kali dalam beberapa bab berikutnya, ia selalu menyatakan bahwa tanpa kehadiran mereka, ia tidak pernah merasa beruntung. Ibu Muslimah dan Pak Harfan adalah inspirator awal yang memberikan pondasi mendasar dalam kehidupannya. Saya rasa, refleksi ini menjadi bentuk pengakuan yang paling jujur. Dengan kesaksian seperti ini, kita diajak kembali untuk menghargai setiap usaha yang pernah dilakukan oleh para guru kita di masa lalu. Kita tidak hanya diajak untuk mengingat rona wajah mereka ketika mereka marah terhadap kita, melainkan juga senyum yang menyejukkan tatkala kita jatuh. Kita diajak untuk memandang para guru bukan sekedar sebagai peristiwa yang dapat berlalu, melainkan sebuah memori dan momen inspiratif dalam kehidupan kita. Ini adalah pengakuan sederhana yang dapat kita lakukan. Untunglah, Andrea mengerti hal itu. Ia mengerti bahwa Ibu Muslimah dan Pak Harfan adalah pohon filicium tua rindang yang meneduhinya.

******

[1] Andrea Hirata Seman, Laskar Pelangi, PT Bentang Pustaka: Yogyakarta, 2005, hlm. 64.

[2] Edward Said, “My Guru”, dalam LRB letters page (14 Januari 2002).

[3] Vide. James L. Peacock, Gerakan Muhammadiyah Memurnikan Ajaran Islam di Indonesia, Penerbit Cipta Kreatif: Jakarta, 1975, hlm. 25.

[4] Ibid., hlm. 62