Ada surat di siang hari
dijepit setang motor bebek
aroma harum tangan kekasih
ditulis dengan rindu
"Kau sudah makan hari ini?"
"Bagaimana kuliahnya?"
Ada surat di siang hari
ini kali kelima ia selipkan
tiada yang tahu
hanya aku dan si cantik
"Kapan datang ke rumah?"
Kahlil Gibran sudah terwujud
surat Rendra telah melaju
Meski ini bahasa masa lalu
cinta pertama bagai candu
Ketika segalanya kian terputus
jejak-jejaknya tiada pernah pupus
Tetap melaras syair
di jalan-jalan yang pernah dilewati
di taman-taman yang pernah disinggahi
atau bioskop
yang menjadi ruang kamuflase
rasa rindu dua insan
Tampilkan postingan dengan label Aku dan Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aku dan Puisi. Tampilkan semua postingan
Kamis, 05 Agustus 2010
Rabu, 14 Mei 2008
Di depan Fatmawati

Dalam periuk waktu
tanganku tersungkur
patah,
pecah!
Sebilah kebohongan
hujam derai cemara
yang tergantung
pada patung
masa lalu
Andai ribuan nadar
telah tembusi kabut
langkahmu tak akan sepi.
Aku terima kau
seperti butir-butir narwastu
telungkup pasrah
telanjang
di kaki kuil
Kita telah lelah.
Senyum palsu
memasung,
merobek fantasi
yang datang
bersama rintik hujan.
Jalanmu terlalu
pekat
hingga aku
tak bisa
lekat
Dalam periuk waktu
tanganku tersungkur
patah,
pecah!
Jakarta, 14 Mei 2008
tanganku tersungkur
patah,
pecah!
Sebilah kebohongan
hujam derai cemara
yang tergantung
pada patung
masa lalu
Andai ribuan nadar
telah tembusi kabut
langkahmu tak akan sepi.
Aku terima kau
seperti butir-butir narwastu
telungkup pasrah
telanjang
di kaki kuil
Kita telah lelah.
Senyum palsu
memasung,
merobek fantasi
yang datang
bersama rintik hujan.
Jalanmu terlalu
pekat
hingga aku
tak bisa
lekat
Dalam periuk waktu
tanganku tersungkur
patah,
pecah!
Jakarta, 14 Mei 2008